-

02 September 2009

Candu



Perserikatan Bangsa Bangsa baru saja melansir berita cukup memprihatinkan. Laju produksi candu di Afganistan terus meningkat, dan sangat mengkhawatirkan. Sewaktu berkuasa Taliban dikenal kekuatan yang tak memberi toleransi pada bandar dan pengisap candu.

Namun kini, dalam situasi terjepit, mereka menghalalkan duit dari opium. Bahkan, menurut PBB, tahun 2008 ini pemasukan dari opium mencapai US 100 juta, sekitar Rp 1 triliun. Perbatasan Afghanistan diperkirakan menyuplai 90% peredaran opium di dunia. Sementara di Indonesia, peredaran narkoba satu hari mencapai Rp 36 milyar.

Kolombia juga mencatat produksi opium yang luar biasa. Operasi militer Amerika Serikat tidak bisa menghentikan produksinya. Para bandar narkoba malah mencari jalur baru, agar bisa memasukkan barangnya ke Amerika Serikat, yakni melalui Meksiko. Dari Meksiko narkoba masuk Amerika Serikat melalui jalur perdagangan yang kompleks, canggih, dan berdarah.

"Sedangkan bagi seorang pengisap opium, kemalasannya bercampur dengan sikap masa bodoh. Satu-satunya hal yang disukai adalah menghadap sebuah lampu teplok. Sementara ia duduk di sebuah bale-bale sambil bertopang kaki dan tangannya dengan santainya memegang pipa madat..."

Kalimat di atas adalah petikan salah satu syair Wulang Reh-ajaran yang benar, dari Pakubuwono IV, raja Kasunanan Surakarta. Kutipan kalimat itu bisa dijumpaidi buku Opium to Java: Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860-1910. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2000.

Petikan syair Wulang Reh itu mengungkapkan keprihatinan Sang Raja atas perilaku sebagian rakyatnya, yang menjadi korban ketagihan candu. Di masa itu, pemerintah kolonial Belanda memang menghalalkan peredaran opium. Serbuk mematikan itu diimpor dari India secara monopoli, kemudian diedarkan oleh para bandar. Dengan segala keterbatasannya, Sang Raja hanya bisa mengeluarkan himbauan agar rakyatnya menjauhi candu.

Di masa modern, candu mempunyai banyak wajah. Berbagai zat baru bermunculan. Bila dulu hanya diisap, kini muncul yang disuntikkan. Akibatnya memang lebih dahsyat. Pemakaian jarum suntik itu, bahkan berdampak penyebaran HIV, Hepatitis, dan penyakit menular lainnya.

Nenek moyang kita mengatakan, jauhilah molimo : main (judi), minum (mabuk), madon (perempuan), maling (mencuri), dan madat (candu). Ajaran itu masih relevan, meski saat ini kita hidup di jaman modern.

0 komentar:

Posting Komentar

SUKSES BERSAMA dBC Networks

Sukses Bersama dBC Network

Bisnis online bersama d’BC Network! Modal awal hanya Rp. 39.900,- Tersedia training online gratis dan sistem online marketing terkini termasuk web, sistem follow up dan randomizer.
 

EXPRESIKAN CANTIKMU Copyright © 2009 Cosmetic Girl Designed by Ipietoon | In Collaboration with FIFA
Girl Illustration Copyrighted to Dapino Colada