
Bagaimana perasaan anda, bila tiba-tiba kehilangan dua kaki dan satu tangan? Sersan Joey Bozik, warga kota Danville, Amerika, merasakan hal itu. Sebagai pria muda yang penuh energi, ia tak pernah menyangka bahwa kepergiannya ke Iraq akan membawa kepedihan mendalam. Sesaat setelah tiba di Iraq, bom meledak. Dua kaki dan satu tangannya ilang hilang.
Ia merasa hidup seolah berakhir. Lari pagi, pergi ke mal, berkemah, apalagi naik gunung, menjadi barang mewah. Beruntung Joey Bozik punya istri setia. Bozik juga punya sesuatu yang istimewa:semangat hidupnya menyala-nyala.
''Ketika pulang dari medan perang, saya merasa sebagai orang yang paling menderita. Tapi hidup tak boleh terus menerus menengok ke belakang, " kata Bozik. Kini Bozik adalah pria penuh semangat. Ia tak malu untuk ikut parade 4 Juli, tanggal perayaan kemerdekaan Amerika Serikat. Bahkan Bozik ikut kuliah lagi untuk mencari gelar sarjana. Ia mendapat beasiswa selama empat tahun.
Perubahan sikap yang ditunjukkan Bozik tak lepas dari penghormatan yang diberikan pemerintah kota Danville, tempat Bozik dilahirkan. Ia ditawari beasiswa, mendapat rumah dan mobil. Tammi Jenkins, ibunya, sangat berbahagia melihat hal itu. "Kemajuan yang ditunjukkan Bozik luar biasa. Kami betul-betul kagum" katanya.
Berpikir positif , itulah kunci maju kaum disabel. Dimalang ada Ibu Ratna Indraswati Ibrahim, novelis terkenal. Ibu Ratna harus dibantu asisten, tatkala ia ingin menuangkan gagasannya. Ditelevisi Indosiar kita mengenal Gufron Sakaril, salah satu petinggi stasiunswasta itu. Gufron bahkan menjadi pengurus organisasi penyandang cacat.
Mereka berdua hanyalah segelintir contoh dari ribuan kaum penyandang kecacatan, yang sukses menaklukkan hambatan yang merintangi. Bagaiman dengan kita? Yang mayoritas diberi kemampuan? Apa kita bisa melakukan seperti mereka atau mungkin lebih baik dari mereka penyandang cacat?
Keep fighting...
0 komentar:
Posting Komentar